Kau… kau layaknya cahaya yang masuk menerangi secara perlahan, memberi kehangatan dalam dinginnya hidup tanpa arti.
Kau… kau adalah cahaya yang mampu membuatku melihat jelas ke arah masa yang akan datang.
Kau… kau ibarat senandung lagu dalam kesenyapan hidupku… memberikan nada indah, dan membuat hidupku tampak berirama.
Kau… kau datang dengan hal baru dalam kehidupan monotonku… seolah mengulurkan tangan, lalu mengajakku pergi untuk melihat kehidupan yang berbeda jauh dari apa yang kujalani sebelumnya.
Namun,… uluran tanganmu tak menggenggam erat. Mungkin kau memang hanya sekedar mengulurkan tangan, lalu memperlihatkanku dunia yang lebih indah. Tidak lebih dari itu.
Ketika kusadari ada dunia yang lebih indah dari yang biasa kujalani… perlahan kau pergi, tanpa mengucap sepatah katapun. Seolah kau hanyalah sebuah pengantar dalam perjalanan hidupku.
Kau memang telah berikan hal yang takkan pernah terlupakan… namun, hal itu pula yang kan membuatku tetap bertahan pada kenyataan pahit, bahwa aku adalah orang yang kau tinggalkan.
Kau… sekian lama pergi lalu kembali. Kembali menyapa tanpa sadar diri,… tahukah kau bahwa sakit yang kau beri masih melekat di hati!?
Kau… kau datang kembali, bersikap seperti hal yang sudah berlalu tak pernah terjadi… kau berikan kenyamanan itu kembali, hingga tanpa sadar aku mulai berharap dirimu kembali lagi…
Betapa lemahnya hati ini…
Luluh hanya karena sapaan “selamat pagi”
Harap yang mulai menghias dalam diri, mencari celah tuk dapatkan perhatianmu kembali.
Seolah berkata “hei, aku disini!”
….
Kau… kau bagaikan kembali dengan membawa tameng berlapis baja.
Kau takut aku menaruh harap dan melancarkan anak panah cinta untuk yang kesekian kali.
Kau adalah badai. Badai yang memporakporandakan hidupku.
Kau adalah tebing. Tebing yang menjadi tempatku memanjat harapan tinggi dalam hidupku.
Dan kau pun adalah jurang. Jurang yang mampu membuat harapku jatuh dan lenyap.
Jurang yang juga membuatku tak bisa tuk menggapai dirimu kembali.
Namun, ini bukanlah akhir.
Aku sadar yang kuperlukan hanyalah membuat lembaran baru dalam hidupku.
Dan aku juga sadar bahwa aku telah membuatnya.
Hanya saja, aku masih menulis di balik lembaran yang pernah ku tulis tentangmu, yang terkadang muncul tulisan yang membuat hati mengenang kembali masa yang sudah berlalu.
Tapi, dengan beriringnya waktu, aku yakin aku mampu menulis hingga lembaran baru yang benar-benar kosong tanpa bekas tulisan tentangmu.
Memulai hidup baru, di lembaran baru.
Karena waktu tidak menjawab masalah, hanya saja, dia memberikan momen kepada kita untuk menyelesaikan sebuah masalah. Get move on!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar